
20 Point Kualitas Mahasiswa dan Lulusan Perguruan Tinggi Yang Diinginkan Oleh Dunia Kerja, Bisnis dan Usaha
- Memiliki kemampuan berkomunikasi
- Memiliki kejujuran/integritas
- Team work
- Kemampuan interpersonal
- Beretika
- Memiliki motivasi/inisiatif
- Kemampuan beradaptasi
- Memiliki daya analtik
- Kemampuan komputer
- Kemampuan berorganisasi
- Berorieantasi pada detail
- Kepemimpinan
- Kepercayaan diri
- Ramah
- Sopan
- Bijaksana
- IPK 2.75 s.d 3.00
- Kreatif
- Humoris
- Kemampuan berwirausaha
20 point kualitas ini dimabil dari survey National Association College and Employee (NACE) USA 2002 kepada 457 pemimpin perusahaan tentang : kualitas penting seorang mahasiswa dan lulusan sebagai kualitas sang juara. (sumber pikiran rakyat bandung) Jika disederhanakan bahwasanya kualitas itu terdiri dari dua sisi, masing-masing sisinya memiliki nilai. Sisi pertama adalah Teknis dan sisi lainnya adalah Non Teknis
Kemampuan Teknis (Hard Skill)
Kemampuan teknis seseorang bisa jadi berasal dari satu sumber yang sama atau dari berbagai sumber yang berbeda tetapi miliki aturan yang sama. Contoh kemampuan teknis
Kemampuan berhitung bilangan decimal : 1 + 1 = 2 Diseluruh dunia siapapun orangnya akan berhitung dengan hasil yang sama tentang hal tersebut. Dari anak kecil sampai orang dewasa akan sama. Mengapa demikian karena berhitung adalah kemapuan teknisdan memiliki aturan baku, tetapi tidak semua orang pandai berhitung secara matetatis.
Kemampuan Bermain Bola Kaki : Diseluruh dunia siapapun orangnya akan melakukan hal yang sama dalam menendang bola, menendang bola menggunakan kakinya. Semua orang normal bisa menendang bola tetapi tidak semua orang bisa bermain bola.
Kemampuan Membaca : Kemampuan membaca juga merupakan kemampuan teknis, membaca merupakan paduan dari kemampaun mengingat huruf, kemudian dari mengingat huruf dilakukan penggabungan menjadi kata kemudian menjadi kalimat. Tetapi tidak semua orang yang bisa membaca memiliki kemampuan untuk mengerti dan memahami isi dari bacaan tersebut atau menjelaskan kembali apa yang telah dibacanya.
Bahkan hampir seluruh ilmu yang dipelajari di bangku sekolah atau kuliah adalah merupakan kemampuan teknis, nilai atau IPK tinggi yang di idam-idamkan oleh setiap lulusan yang kerap di nilai sebagai bukti kehebatan seorang mahasiswa juga “bukan jaminan untuk menjadi sukses”.
Sebagai contoh : ada seorang karyawan di salah satu perusahaan yang bergerak di bidang IT, karyawan tersebut tergolong orang yang sangat pintar dan memiliki kemampuan luar biasa, kemampuannya membuat rancangan dan detail suatu program aplikasi tidak diragukan lagi. Jenis program aplikasi yang terdiri dari ribuan script bisa dibuatnya dalam tempo yang relative singkat. Tetapi banyak rekan kerjanya yang mengeluh jika bekerjasaman dengannya, rekannya berpendapat bahwa si “A” adalah orang yang cerdas tapi sayang, dia pelit ilmu, mau menang sendiri dan menganggap buatannya adalah yang paling benar, dan yang paling menyebalkan adalah dia suka datang siang, dan jarang masuk kerja. Jika diajak rapat dia tidak pernah bisa menyampaikan idenya, tidak bisa berkomunikasi dengan baik, kaku, tidak ramah, dan tidak mau bekerja dalam tim, semuanya dibuat sendiri. Jika ada orang yang di jadikan partner kerjanya dia sulit beradaptasi dengan kondisi yang baru…. Akhirnya banyak orang yang tidak mau berteman dengannya. Dalam setiap pekerjaan si A tidak pernah dilibatkan lagi, sehingga tanpa disadari oleh si A, karirnya telah mati.
Dari cerita diatas mungkin kita sering menemukan orang-orang yang seperti ini baik dikelas, di tempat kerja, bahkan di rumah kita sendiri.
Contoh kedua : ini contoh realita, saya memiliki teman dari kecil, katakan namanya si beno (samaran). Beno adalah anak yang sangat pintar IQ nya tinggi dari keluarga menengah, ia memiliki 2 orang kakak yang keduanya juga sama pintarnya, jadi singkat kata keluarga beno di kampung kami di pandang sebagai kelurga yang memiliki anak yang pintar-pintar dan selalu menjadi tolok ukur bagi masyarakat sekitar. Beno, joni dan lala kerap menjadi perhatian di kampung kami, dari kecil mereka selalu melakukan aktivitasnya dengan teratur, dari sekolah sampai dengan bermain mereka benar-benar tertata dan tidak sembarangan, waktu untuk bermain sangat sedikit dan banyak dihabiskan di rumah, sekolah merekapun selalu di tempat sekolah unggulan mulai dari sd, smp, sma dan universitas, tidak semua anak di kampung kami ada yang bisa masuk atau bisa berada di tempat yang sama dengan mereka karena untuk masuk sekolah mereka atau universitas mereka harus benar-benar pintar, nilai merekapun luar biasa, selalu jadi juara di kelasnya, bahkan IPK mereka juga diatas rata-rata. Kami rekan sebayanya berasumsi bahwa suatu saat kelak mereka akan menjadi orang sukses, bagaimana tidak mereka benar-benar pintar. Tapi singkat kata setelah lulus dari dunia pendidikan kehidupan yang sesungguhnya terjadi, mereka ketiganya tidak mendapatkan pekerjaan apapun, seandainya ada itupun pekerjaan yang sepantasnya bukan untuk mereka. Si Beno sempat pindah 3 kali universitas dari lampung pindah ke salah satu universitas negeri terkemuka di bandung kemudian pindah lagi ke universitas swasta terkemuka di jogyakarta, tetapi akhirnya sama sekali tidak selesai kuliahnya di jurusan teknik sipil bahkan lebih naifnya lagi ia menjadi seorang pecandu narkoba, si joni kuliah di jurusan manajemen setelah lulus ia mengalami masa pengangguran yang sangat panjang sampai dengan saat ini ia frustasi karena belum mendapatkan pekerjaan, si lala yang juga jurusan teknik sipil bekerja di salah satu konsultan teknik bagian administrasi dimana pimpinannya hanyalah seorang lulusan SMK. Kebetulan waktu lulus kami dari perguruan tinggi tidak berbeda jauh kira-kira lulus tahun 2000-2001-2002, sudah hampir 6 tahun yang lalu. Dari kecil hingga dewasa waktu mereka habis di rumah, tidak banyak waktu mereka untuk menikmati asiknya bermain dan mengeksplorasi kenakalan dengan anak-anak yang lainnya, semasa kuliah mereka tidak pernah terlibat aktivitas apapun dikampusnya, kesimpulannya mereka adalah orang-orang pintar yang individu, dan kurang bersosialisasi dengan kehidupan sekitarnya.
Mungkin dari dua cerita tersebut diatas dapat mewakili pesan yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini tentang “Betapa Pentingnya Soft Skill”. Sampai dengan saat ini masih banyak orang khusunya orang tua yang menganggap kemampuan non teknis tidak diperlukan dalam dunia kerja, bisnis dan usah. Masih dianggap sesuatu yang basa-basi dan bukan syarat yang mutlak bagi seorang mahasiswa, lulusan atau individu seseorang padahal kemampuan seperti itu benar-benar serius dan harus dimiliki oleh siapapun.
Kemapuan Non Teknis (Soft Skill)
Kemampuan non teknis, kemampuan inilah sebenarnya yang menjadi fundamental bagi setiap orang untuk menjadi sukses dalam hal apapun bahkan untuk menjadi seorang pakar sekalipun, kemampuan non teknis adalah kemampuan yang tidak terlihat sifatnya absurditas.
Kemampuan non teknis merupakan kolaborasi pribadi yang mencakup berbagai aspek kejiwaan seperti, spiritual, emotional, mental, dan fisik dan ini yang dikatakan jiwa atau menjadi diri sendiri. Sebenarnya kemampuan ini juga merupakan point-point dasar dari suatu agama bahkan seluruh agama yang ada di muka bumi ini.
Kemampuan Spiritual bukan bersifat magic atau klenik, tetapi lebih kepada kemampuan berpikir dari seseorang, pikiran adalah bentuk yang tidak berbentuk, pikiran itu tidak hanya bersarang pada otak, tetapi pada seluruh sendi kehidupan seseorang.
Sebagai contoh : aktivitas spiritual sering terjadi dalam diri kita, tanpa kita sadari aktivitasnya seperti merenung, berimajinasi, berdialog dalam pikiran atau lainnya, ujud aktivitasnya seperti ketika kita sedang berjalan kaki sendirian tanpa kita sadari kita sering berbicara sendiri atau melakukan dialog antara hati, pikiran dan lainnya untuk menentukan suatu keputusan pribadi. Ini merupkan aktivitas spiritual ringan.
Kemampuan magic atau klenik menurut saya masih merupakan kemampuan teknik yang butuh skill dan media tertentu yang tidak pada umumnya untuk memanggil arwah penasaran, meramal, santet, sulap dan lainnya dan dapat dipelajari layaknya mempelajari fisika, matematik, sejarah, komputer ataupun agama. Hanya objek eksperimen dan medianya saja yang agak lain dari biasanya, media biasanya yang diekplorasi misalnya komputer tetapi ini adalah memandikan keris seperti yang dilakukan oleh ki joko bodo dan tidak dimasukkan kedalam kurikulum pendidikan, misalnya teknik dalam santet atau teknik meramal, teknik dalam sulap dan lain-lain (metafisis). Apa bedanya dengan eksperimen membuat bom, sama-sama eksperimen dan menerut saya sama-sama eksperimen yang lazim hanya objeknya saja yang membedakan. Jadi jika disimpulkan secara sederhana kemampuan spiritual bukanlah kemampaun magic tetapi kemampuan spiritual adalah kemampuan berpikir dari seseorang.
Kemampuan Emotional juga sama halnya dengan rasa, rasa adalah bentuk yang tidak berbentuk, dia tidak berada di hati, di lidah, di kulit atau dimanapun. Rasa sakit tidak selamanya berada dikulit yang terluka dan mengeluarkan darah, terkadang rasa sakit akibat luka di kulit bisa tidak memiliki rasa ketika di sugesti untuk tidak sakit, ini membuktikan bahwa rasa bukan merupakan bentuk aktivitas bentuk atau kerja dari sel-sel kulit saja, tetapi juga melibatkan peranan dari aktivitas yang tidak berbentuk.
Kemampuan Mental atau hasrat, untuk berbuat yang sering dikenal orang dengan kata berani atau keberanian, ini juga merupakan bentuk kemampuan yang tidak berbentuk secara fisik, berani mengambil keputusan, adalah merupakan aktivitas yang tidak berbentuk. Takut dalam gelap juga salah satu contoh nyata aktivitasnya, gelap hanyalah sebuah suasana alam, dan sekumpulan asumsi manusia.
Kemampuan Fisik lebih kepada ketangkasan fisik juga mesti mendukung dari kemampuan-kemapuan yang lainnya dan sejauh ini pola pendidikan yang kerap kita terima seluruhnya hampir berbentuk kemampuan fisik dan teknis, dan kebanyakan orang tua kita lebih senang melihat anaknya cerdas dan memiliki kemampuan teknis dalam berhitung seperti matematik ketimbang cerdas secara spiritual, emotional atau mentalnya. Padahal kecerdasan non teknislah yang sebenarnya menetukan seseorang untuk menjadi pribadi yang sukses dalam segala medan.
Jadi jika disimpulkan bahwa kemampuan non teknis (soft skill) memegang peranan utama dalam kesuksesan seseorang. Menurut Patrick S O’Brien dalam bukunya Making College Count soft skill yang di sebut Winning Characteristics dapat dikategorikan kedalam 7 point yaitu :
- Communication Skill
- Organizational Skill
- Leadership
- Logic
- Effort
- Group Skill
- Ethics
Kemampuan ini tidak berbentuk tetapi sangat diperlukan oleh setiap individu dan jika dikomparasi dengan tulisan bapak Romi Satria Wahono tentang apa sih yang didapat oleh mahasiswa dikampus ? maka kemampuan non teknis merupakan sesuatu yang memang benar-benar harus dilatih secara intent baik secara akademis maupun non akademis. Jika dilihat dari tulisan pak romi ada beberapa point juga yang harus dilakukan oleh mahasiswa untuk menjadi lulusan yang berkualitas yaitu ;
- Knowledge
- Skill
- Technical
- Attitude
- Experience
Dimana setiap mahasiswa dituntut untuk memperkaya khasanah pengetahuannya dengan berbagai pengetahuan pendukung lainnya, mengasah skill (kemampuan teknis) keilmuannya, mempertajam teknik dari skill yang dimiliki, memperbaiki sikap sehingga mencerminkan kepribadian yang unggul dan yang terakhir adalah memperbanyak pengalaman diberbagai aktivitas atau kegiatan di bidang akademis maupun non akademis sebagai penunjang dan mempertajam dari aspek-aspek lainnya sehingga akhirnya kita menjadi sang juara yang professionalism dan professional.
Soft kill sebenarnya sudah dikenalkan dirumah kita sejak kita kecil, tetapi hal tersebut dianggap tidak penting dan sesuatu yang tidak dapat dijadikan modal apa-apa untuk menjadi pribadi yang sukses, jadi pertanyaannya Apakah mahasiswa atau lulusan masih mengagungkan IPK besar ???, Apakah aktivitas ekstra ko kurikuler di sekolah atau kampus tidak penting dan hanya menghabiskan waktu ?
Reference: Pikiran Rakyat, The Art of Acting, Robert Tyosaki, Patrick S O’Brien, Romi Satria Wahono, graffiti LA Fest, The real of story davidlama
artikel top